Header Ads

Pesona Keindahan Objek Wisata Alam Datuk di Kabupaten Batubara

Kepariwisataan Kabupaten Batubara telah menjadi lirikan wisatawan. Lambat tetapi pasti kabupaten yang baru dimekarkan ini telah memiliki Objek-objek wisata andalan yang menjadi magnit penarik pengunjung. Variasi objek yang ditawarkan membuat pengunjung betah berlama-lama.


Wisata Sumatera Utara - Kabupaten Batubara adalah hasil pemekaran dari Kabupaten Asahan. Setelah terpisah dari induknya, ka­bupaten ini kini telah unjuk gigi de­ngan mengeksplor dan memoles tem­pat-tempat yang dahulunya sederhana kini telah dijadikan objek wisata indah yang dapat menambah pendapatan masyarakat sekitar.

Diantaranya ada dua pulau yang sangat indah yaitu Pulau Salah Nama dan Pulau Pandang yang telah menjadi kebanggaan Kabupaten ini sebagai wisata pantai dan wisata memancing. Kedua pulau tersebut sering kita dengar dan dipublikasikan sehingga untuk kali ini penulis meninjau kawasan yang sedang berkembang dan diminati wisatawan tersebut, yaitu Wisata Alam Datuk (WAD).

Pengelola objek WAD tidak perlu ber­pi­kir muluk-muluk untuk menda­tang­kan wisa­tawan mancanegara ke tempat ini karena wisa­tawan domestik yang berkunjung sudah sangat ramai. Dengan mengha­biskan waktu tiga jam berada di lokasi WAD, pengunjung telah dapat menikmati alam dan fasilitas yang ada di dalamnya.

Keberhasilan suatu objek wisata ti­dak terlepas dari kepuasan dan ke­amanan pengunjung. Promosi yang dila­kukan pengunjung kepada kerabat me­reka biasanya lebih ampuh dari leaf­let ataupun pamflet. Dengan adanya media sosial menjadikan objek wisata bisa cepat lebih dikenal apalagi ga­m­bar-gambar yang ditampilkan mena­rik dan bervariasi sehingga mengun­dang pengunjung datang ke tempat wisata tersebut.

Kasus objek wisata WAD ini pe­nu­lis berpendapat wisatawan domestik sa­ngat menikmati lingkungan dan ma­kan­an khas Batubara yaitu ikan pang­gang. Karena di kawasan ini ikan segar langsung dapat dipanggang dekat pem­beli. Dan pembeli dapat langsung me­milih jenis ikan dan besarnya. Sua­sana sangat alami, memanggang ikan dibawah pepohonan mangrove yang sukar didapat di objek wisata lain.

Wisata Alam Datuk memiliki pon­dok-pondok yang dibangun sederhana dengan menggunakan bahan tempatan yaitu kayu mangrove dan papan dari kayu kelapa. Pondok-pondok ini se­ngaja dibangun menghadap pantai agar pemandangan lebih indah. Untuk sewa pondok dan tikar hanya Rp.20.000.-

Harga ini cukup terjangkau dan pe­ngelola mengan­jurkan pengunjung untuk memesan kopi atau teh manis kepada empunya pondok seolah sebagai kompensasi murahnya sewa pondok dan tikar dan demi lancarnya dagangan mereka.

Untuk menikmati fasilitas yang ada di dalam objek wisata ini, seperti : ma­suk ke perkampungan Papua dan memakai topi dari bulu burung, berfoto di sekitarnya dan memanjat rumah pohon yang disediakan. Pengunjung diharuskan membeli tiket dengan harga Rp.5.000.-/ orang.


Dengan menunjukkan tiket pengunjung dapat menikmati fasilitas lain, sehingga pengunjung cukup membeli tiket sekali saja untuk menikmati beberapa fasilitas. Sistem seperti ini penulis sebut manajemen satu pintu yang cukup baik dan wisatawan sangat senang dengan sistem ini.

Untuk masuk ke objek WAD dikenakan biaya Rp.10.000.-/ orang termasuk parkir kendaraan. Tempat parkir di bawah pepohonan rindang terasa nyaman dengan penjagaan petugas yang cukup aman.

Letak Lokasi
Objek Wisata Alam Datuk terletak di Kota Sungai Pasir yang luasannya mencapai lebih dari tiga hektar. Minimnya rambu-rambu untuk mencapai WAD maka pengunjung harus ekstra hati-hati agar tidak salah arah karena ada beberapa pantai yang sedang mendapat perhatian wisatawan.

Ada tiga pintu masuk yang bisa dilalui jika ingin ke WAD ini yaitu jika anda dari Kota Medan bisa masuk dari Simpang Kuala Tanjung, jika dari Pematangsiantar sebaiknya masuk dari Simpang Empat Kecamatan Limapuluh. Dan jika dari Kisaran dianjurkan masuk dari Simpang Sei Bejangkar.

Rute-rute ini adalah yang paling cepat ke WAD. Kondisi jalan pada umumnya sudah baik. Hanya saja memang sudah menjadi tradisi di Sumatera Utara jika ingin memasuki objek wisata biasanya jalan mulai rusak. Entah apalah pikiran pemerintah daerah selalu menyulitkan pengunjung untuk masuk objek wisata. Kemanapun kita pergi berwisata selalu dijumpai jalanan rusak mendekati objek. Kondisi yang demikian menyebabkan ketidaknyamanan pengunjung.

Kalau kita melirik provinsi lain contohnya Sumatera Barat, tidak ada diskriminasi kondisi jalan, semuanya bagus, makin dekat ke objek wisata diusahakan makin baik agar pengunjung merasa nyaman.

Pepohonan mangrove yang tumbuh di kawasan WAD sangat membantu pengunjung agar tidak kepanasan. Wisata Alam Datuk dengan menyuguhkan beberapa rumah contoh dengan konsep alam dan pendekatan inilah yang disebut dengan “Konsep Ekowisata”.

Pepohonan mangrove yang tumbuh dengan akar menggantung membuat kawanan kera ekor panjang dengan riangnya melompat ke sana sini. Makin sore kawanan primata ini makin ba­nyak berdatangan. Hewan-hewan ini biasanya mengharapkan makanan dari pengunjung. Kalau tidak hati-hati men­jaga makanan dengan baik, hewan-hewan ini akan mengambilnya dengan sangat cepat dan membawa makanan ke atas pohon. Demikian juga dengan tas kecil harus dijaga dengan baik kalau tidak akan digondol kera ke atas pohon.

Perlakuan hewan ini sebenarnya menja­di tontonan yang mengasikkkan bagi wisatawan. Lokasi ini biasanya dira­maikan oleh pengunjung domestik yang datang dari Medan, Tanjung Ba­lai, Kisaran dan daerah sekitarnya. Mari menikmati Wisata Alam Datuk yang rada unik dan nyaman. ***

Penulis: Muhammad Ali, MLS
Diberdayakan oleh Blogger.