Header Ads

Pesona Keindahan Alam Tersembunyi di Pantai Nemberala - Pulau Rote

Air laut surut ketika saya tiba di Nemberala, membuat pasir putihnya tampak luas membentang. Pohon-pohon nyiur yang tumbuh jangkung bersisian dengan lontar saling menggesekkan daun mereka seakan berebut kilau pasir.  Di kaki salah satu pohon lontar itu, seorang ibu menebar Eucheuma Cottonii, rumput laut segar yang baru dipanennya di atas para-para.

Pantai Indonesia - Sekonyong, dari celah bebatuan, muncul sekelompok pria asing menjunjung papan selancar.  Saya agak kebingungan, karena tidak melihat ombak yang besar di Nemberala atau pun aktifitas selancar yang kasat mata. Lantas di mana mereka bermain ombak? “Tidak di tepi pantai sini, tapi di ujung karang sana,” tunjuk sang ibu ke arah barat. “Biasanya mereka mendayung atau naik sampan ke sana. Ombaknya besar namun tidak kelihatan dari sini,” lanjutnya. Oh, pantas saja.

Nemberala telah berdekade mematutkan namanya sebagai salah satu destinasi selancar ternama di Indonesia. Lokasinya yang berada di Pulau Rote, bagian terselatan negeri ini, memaksa peselancar musti rela terbang jauh dan transit di beberapa bandar udara sebelum bisa sampai kemari.

Namun letak yang tak mudah dijangkau ini malah dianggap baik oleh sejumlah peselancar. “Kita lebih leluasa, lebih bisa menikmati permainan, karena tidak banyak orang. Selancar itu sebenarnya aktifitas yang hening. Kita bahkan tidak mendengarkan ombak. Satu-satunya yang kita dengarkan bisikannya adalah angin. Di Nemberala saya sangat merasakan itu,” ujar Dakoda Walters, peselancar muda Australia.

Kesan tropis khas pesisir Indonesia terlihat jelas di Nemberala lewat pepohonan kelapa yang lumayan padat menjulang memenuhi kampung. Aura kesederhanan ditampilkan oleh pagar-pagar rumah yang terbuat dari susunan batu karang, juga rumah-rumah yang umumnya berdindingkan bilah-bilah gagang daun siwalan. Di pulau yang kecil serta gampang kering seperti Rote, komponen organik untuk material rumah seperti itu lebih cocok ketimbang semen. Meredam suhu panas.

Beberapa peselancar senior mancanegara yang menginap di penginapan yang sama dengan saya mengatakan bahwa rupa Nemberala kurang lebih mirip dengan Kuta-Bali di era 70-an. “Saya dengan gampang bisa mengenang kembali masa-masa muda tentang Kuta di sini,” kata Bill Lyon, pria Amerika berambut gondrong yang telah menggeluti surfing puluhan tahun jauh sebelum saya lahir.

LOKA TARIAN OMBAK
Dari Bill Lyon saya mengenal sejumlah loka selancar favorit seputaran Nemberala. Saya pernah mencoba berselancar namun tidak mendalaminya lantaran selalu mengalami kram pada betis saat baru memulai bermain.

“Sedikitnya terdapat tujuh lokasi selancar di Nemberala. Yang di dekat sini, berhadapan dengan Anugerah Beach Resort, dinamakan T-Land Besialu. Sekitar satu kilometer ke arah barat dari pantai. Ombaknya mencapai 4,5 meter,” urai Bill saat kami menelusuri pantai pada sore berikutnya. “Di sisi utara Nemberala,” lanjut Bill, “namanya Sukanamon. Ombak setinggi 2, 5 meter.”

“Untuk pemula, biasanya dimana?” tanya saya. “Utara Nemberala juga, Squealers namanya. Sekitar 1 meter tinggi ombaknya dan aman,” balasnya. Bill sendiri punya lokasi  kesukaan yakni di Do’o, pulau kecil yang kelihatan jelas sekali berhadapan dengan  Nemberala. “Ombaknya mencapai 5 meter. Meskipun untuk kesana saya harus menumpang kapal motor selama 45 menit, namun serasa sedang menari bila meluncuri ombaknya.”

Selain T-Land Besialu, Sukanamon, Squealers, dan Do’o, tiga lokasi lain yang juga diincar yakni The Bombie, Ndana, dan Bo’a. “Jika kamu mau lihat orang-orang bermain selancar dengan ombak cukup tinggi tapi pada jarak yang dekat dengan pantai,

Maka pergilah ke Bo’a,” terang Bill mengingatkan.

Di sela-sela cerita tentang selancar dan masa mudanya, Bill menyimpan kegundahan perihal Nemberala. “Para pemilik tanah di sepanjang pantai Nemberala terlalu gampang melepas tanah, mereka berlomba-lomba menjualnya ke orang asing. Sayang sekali. Padahal itu investasi, dan lebih baik jika disewakan saja ketimbang dijual.” Ia mengurai perihal tanah-tanah Nemberala yang kini beralih menjadi resor maupun villa setelah dibeli investor luar. Saya sangat menyadari itu manakala menelusuri jalanan ke utara dan selatan Nemberala. Telah banyak akses ke pantai-pantai yang tidak lagi bebas sebab telah ditemboki.

PANTAI-PANTAI RUPAWAN
Nemberala tidak hanya perkara selancar. Bagi penyuka pantai berpasir putih dengan bumbu momen matahari terbenam, kawasan ini jelas tidak bakal mengecewakan. Buktinya film besutan Mira Lesmana “Kulari Ke Pantai” memilih Nemberala sebagai lokasi syutingnya.

Di sebelah selatan Pantai Nemberala berderet-deret pantai rupawan menunggu didatangi tanpa musti membayar karcis masuk. Pantai Endalifu, misalnya, yang langsung bersebelahan. Di sini hanya sedikit orang yang datang, sehingga lebih leluasa jika mau berbaring atau bermain pasir.

Lalu ada Pantai Tunggaoen dengan rimbun pohon pandan laut. Pasir di sini lebih putih bersih ketimbang dua pantai sebelumnya. Sebuah pulau karang di depan pantai ini menjadi sarang burung-burung camar.

Hanya beberapa meter dari sana, menyusul Pantai Lifulada. Tebing tanjung di sisi timur dengan taburan bebatuannya amat menawan. Saya mendaki lerengnya dan memandang panorama dari atas. Sebuah batu berbentuk unik bagai cendawan jadi pemikat tambahan pantai ini. Bila punya jiwa petualangan dan berniat mendapati pantai rahasia, bisa melanjutkan pendakian untuk mencapai sisi sebelah bukit di mana sebuah pantai berpasir putih benar-benar menyepi sendiri.

Pantai Bo’a menyembul dengan pasir putih bertabur kerang serta siput kecil. Pantai Pandan jadi pemungkas daftar pantai. Saban hari orang bermain kite-surfing di sini. Seperti kata Bill Lyon, pantai Bo’a dan Pantai Pandan memang berangin cukup kencang dan akan tenang menjelang senja. Duduk sendirian di sini, saya mendengar jelas embusan angin yang menelisik sela-sela dedaunan. Seperti gita pawana, dendang angin.

Pantas banyak peselancar betah dan lebih suka bila Nemberala tidak lekas menjelma terlalu turistik. Cukup angin saja yang bersuara.

Penulis: Valentino Luis

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.