Header Ads

Kemeriahan Dan Ritual Maudu Lompoa Cikoang Menjadi Tradisi Termegah di Indonesia

Maudu’ Lompoa sebagai tradisi budaya bukan lagi milik warga Laikang,Kabupaten Takalar tetapi ritual tahunan ini sudah milik masyarakat luas, hingga ke mancanegara. Tidak heran jika masyarakat Takalar menyebut ritual ini merupakan tradisi termegah di Indonesia.

Budaya Takalar - Puluhan perahu berhiaskan sarung, seprai, dan hasil bumi berjejer di pinggir muara Sungai Cikoang. Suasana semarak dan penuh warna di antara ribuan masyarakat yang datang dari berbagai daerah berjejal di tepian sungai. Mereka mengikuti ritual Maudu Lompoa (maulid besar) yang digelar sebagai peringatan Hari lahir Nabi Muhammad SAW.

Di Cikoang, sebuah desa di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dirayakan dengan meriah. Prosesi peringatan diisi dengan berbagai kegiatan ritual dan parade perahu hias. Maudu Lompoa adalah puncak dari rangkaian beberapa ritual maulid di Cikoang.

Ritual keagamaan ini rutin digelar di Cikoang, sekitar 55 kilometer dari Kota Makassar setiap akhir bulan Rabiul Awal. Dalam perayaan ini, masyarakat setempat menghias perahu-perahu yang biasanya digunakan nelayan mencari ikan dengan beragam macam kain berbagai warna berupa baju, celana, sarung, dan seprai. Di bagian belakang perahu ditempeli uang kertas Rp 5 ribu atau Rp 10 ribu.Ratusan telur yang diwarnai disusun rapi dan bakul-bakul yang berisi kaddo minnyak—makanan dari beras ketan. Perahu-perahu rias ini biasanya mewakili satu keluarga.

Menurut sejarahnya, kehadiran tradisi Maudu Lompoa di Cikoang diawali kedatangan Sayyid Djalaluddin bin Muhammad Wahid Al Aidid. Djalaluddin adalah seorang ulama besar asal Aceh, cucu Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam. Ia keturunan Arab Hadramaut, Arab Selatan, dipercaya keturunan Nabi Muhammad SAW Ke-27. Sayyid Djalaluddin Al Aidid tiba di kerajaan Gowa-Makassar pada abad 17, masa pemerintahan Sultan Alauddin. Tradisi ini masih dilakukan oleh keluarga Al Adid setiap tahun.

Di antara ribuan pengunjung yang berbaur dengan masyarakat, berbagai kegiatan berlangsung simultan. Di sebuah rumah besar ada pembacaan syair-syair maulid, di tempat lain sekelompok masyarakat berkumpul menyaksikan permainan pencak silat. Rumah-rumah masyarakat yang berjejer sepanjang sungai Cikoang dipenuhi pengunjung. Di Cikoang, perayaan maulid jauh lebih ramai dibanding lebaran.

Di akhir kegiatan, ribuan warga yang memadati kegiatan ini berebut telur maulid. Dalam acara ini ada juga tradisi saling siram air dan mandi di pantai sebagai symbol pembersihan atau penyucian diri. Maudu Lompoa digelar bukan sekadar peringatan hari lahir Nabi Besar Muhammad SAW, tetapi juga diharapkan bisa menumbuhkan dan
menambah rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW yang menjadi panutan kaum muslim sekaligus ajang silaturahmi masyarakat Cikoang dan sekitarnya.

Kehadiran tradisi Maudu’ Lompoa di Cikoang diawali dari kedatangan Sayyid Djalaluddin bin Muhammad Wahid Al’ Aidid. Maudu Lompoa digelar bukan sekadar peringatan hari lahir Nabi Besar Muhammad SAW, tetapi juga diharapkan bisa menumbuhkan dan menambah rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW.

Penulis: Makhfud Sappe | Lion Mag
Diberdayakan oleh Blogger.