Header Ads

Mengenal Lebih Dekat Pesona Adat di Kampung Sasak Sade Kabupaten Lombok Tengah

Meski arus modernisasi deras mengalir hingga relung-relung kehidupan. Hebatnya, penduduk desa ini tetap mempertahankan adat, budaya serta tradisi secara turun-temurun hingga saat ini. kampung Sasak Sade akhirnya menuai buah manis, semanis senyum masyarakatnya menyambut para wisatawan yang berkunjung.

Pesona Budaya Kampung Sasak Sade - Ya, kampung Sasak Sade yang terletak di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah ini merupakan salah satu desa yang menjaga tradisi Suku Sasak hingga saat ini. Tidak tergiur dengan derasnya kemajuan teknologi dalam era globalisasi seperti sekarang ini. Mereka tetap hidup dalam kesederhanaan dan kearifan lokal. Sebenarnya di pulau Lombok ada beberapa desa lagi yang masih mempertahankan tradisi suku Sasak selain desa Sade, yaitu desa Bayan. Namun demikian yang sering dikunjungi para wisatawan adalah desa Sade, Rembitan karena lokasinya yang cukup dekat dengan pusat kota Mataram.

Apalagi dengan mulai beroperasinya Bandara Internasional Lombok Praya, menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat desa Sade ini. Bagaimana tidak, bandara baru ini hanya berjarak sekitar 10 km atau hanya 15 menit perjalanan dengan mobil. Akses jalannya pun meski tidak terlalu lebar tapi sudah tertutup aspal yang sangat mulus. Tentu saja kemudahan dan kedekatan ini memberi peluang bagi para wisatawan untuk langsung berkunjung begitu tiba di Pulau Lombok. Seperti kami saat itu berkunjung ke desa ini, hanya bedanya bukan saat tiba di Pulau Lombok melainkan saat kami akan meninggalkan Pulau Lombok. Karena dekat dengan bandara, jadi kami pun tidak takut akan ketinggalan pesawat.

Begitu tiba di area parkir tepat di seberang jalan masuk desa Sade, senyum ramah seorang pemandu wisata lokal menyambut kedatangan kami. Ya, tentu saja setelah kami menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari pusat kota Mataram dengan bis. Ada yang menarik selama perjalanan menuju desa adat ini. Di sepanjang kiri kanan jalan rumah-rumah penduduk sudah bisa dikatakan merupakan bangunan dengan dinding batu bata dan beratapkan genting. Ya, sudah modern lah. Namun saat sampai di desa Sade, suasana sangat berbeda. Kami mendapati rumah dengan dinding dari anyaman bambu dan beratapkan daun alang-alang kering. Rumah khas suku Sasak, suku asli Pulau Lombok.

Oleh pemandu wisata tadi kami dikumpulkan di pelataran utama kampung ini tepatnya setelah melewati gapura utama. Tak lama kemudian sang pemandu mulai memainkan perannya. Begitu piawai menjelaskan seluk beluk desa ini. Baik dari sisi budaya, adat hingga jumlah warganya pun hafal di luar kepala. Ya, jelas piawai lah soalnya dia kan penduduk asli kampung Sade ini, bukan pemandu cabutan dari tempat lain. Menurutnya, di kampung Sade ini terdapat sekitar 150 rumah dengan jumlah jiwa tidak kurang dari 700 orang. Tidak begitu besar memang, tapi cukup menarik untuk dijadikan destinasi wisata. Mengingat perkampungan adat seperti ini sudah mulai langka.

Penulis: Ristiyono | Lion Mag
Diberdayakan oleh Blogger.