Header Ads

Pesona Eksotisme Situ Cileunca, Obyek Wisata di Bandung Selatan

Ketika melintasi jalur Bandung – Pengalengan beberapa waktu yang lalu, sekilas penulis sempat melihat sebuah penadangan alam yang sangat indah. Sesampainya di villa tempat penulis menginap di desa Wanasari, Pengalengan, pemandangan itu kembali terlihat jelas dari lantai tiga villa.


Objek Wisata Bandung - Awalnya penulis mengira itu sebuah danau alam seperti Danau Laut Tawar di Aceh Tengah, namun akhirnya penulis mendapat jawaban dari pemilik villa, bahwa pemandangan air yang terlihat indah dikelilingi rimbunnya pepohonan hijau ini adalah sebuah bendungan atau danau buatan yang dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutan ‘Situ’.

Situ Cileuncabegitu  nama tempat seperti danau yang berada di ‘jantung’ kecamatan Pangalengan, di selatan kabupaten Bandung ini. Rasa ingin tau yang begitu besar, akhirnya membawa penulis ‘mencuri waktu’ untuk menyusuri tepian situ yang sudah sejak lama dikenal sebagai sumber energi pembangkit tenaga listrik di wilayah Bandung bagian selatan ini.

Namun karena pemandangan di sekitar situ yang begitu indah dengan kesejukan udara yang segar dan masih relative bebas polusi itu, akhirnya kawasan danau buatan ini mulai berkembang sebagai salah satu obyek wisata andalan di seputaran kabupaten Bandung. Di seputaran situ yang terlihat asri dengan rerimbunan pepohonan itu, banyak berdiri saung-saung yang bisa dijadikan tempat istirahat bagi pengunjung sambil menikmati keindahan pemandangan Situ Cileunca. Selain sebagai tempat persinggahan, saung-saung yang rata-rata berkonstruksi kayu dan bamboo itu juga berfungsi sebagai rumah makan atau kafe.


Dalam kondisi normal tanpa macet, kawasan wisata alam buatan ini dapat dicapai dari kota Bandung sekitar satu setengah jam melintasi jalan yang lumayan mulus melintasi areal pertanian dengan berbagai komoditi seperti teh, kentang, kol, wortel dan sebagainya.


Bagi penulis yang menyukai destinasi wisata alam alam dan penyuka suasana tenang dan damai di alam terbuka, tentu saja Situ Cileunca ini menjadi tempat yang menarik perhatian penulis. Perpaduan antara panorama keindahan alam yang asri dan hijau dengan hamparan air berwarna biru jernih dibumbui dengan semilir hembusan angin yang terasa dingin menerpa wajah,sehingga seketika juga merasuk dalam jiwa.


Kepenatan setelah melewati perjalanan panjang dari Tanah Gayo, terasa sirna, bahkan  kenangan mengangkan di Bandara Kuala Namu, Medan saat pesawat yang kami tumpangi dua kali gagal take off dan sekali memutar balik ke bandara asal, seakan terhapus dari ingatan, saat penulis bercengkerama dengan alam di seputaran situ yang cukup melegenda ini.


Sejauh mata memandang, hamparan air yang bersih dengan warna hijau mebiru terlihat sangat menyejukkan mata. Apalagi rerimbunan berbagai pepohonan hijau yang meng’hiasi’ setiap sudut danau buatan itu, juga membuat pengunjung betah berlama-lama berda di tempat ini. Pinggiran bendungan yang tertata rapi dan terlihat bersih, nyaris bebas dari sampah ini juga membuat semua orang yang berkunjung ke tempat ini merasa nyaman.


Sejarah Situ Cileunca

Merapat di tepian situ Cileunca, akhirnya mengusik rasa ingin tau penulis tentang sejarah bendungan yang menjadi pemasok energy PLTA dan sumber air bersih di sebagain besar kabupaten dan kota Bandung ini. Dari seorang pemandu wisata yang penulis temui di tempat ini itu, akhirnya penulispun mendapat sedikit informasi tentang sejarah waduk yang sudah dibangun sejak jaman Belanda ini.

Situ Cileunca konon dibangun oleh para pengusaha perkebunan berkebangsaan Belanda yang mengusai beberapa daerah perkebunan di Pengalengan dan sekitarnya pada tahun 1018. Awalnya danau buatan ini bernama Situ Bandung, dan tujuan dibuatnya bendungan ini adalah untuk memenuhi kebutuhan air bersih pada komplek perumahan ‘kaum elit’ Belanda baik yang berada di sekitar Pengalengan maupun di kota Bandung pada umumnya.


Waduk seluas 1.400 hektar dengan kedalaman rata-rata 17 meter ini memang berisi air yang sangat jernih karena berasal dari mata air di daerah pegunungan, dengan kapasitas jutaan liter air, waduk ini nyaris tidak pernah kering sepanjang tahun, sehingga mampu menyuplai kebutuhan air bersih bukan hanya bagi para ‘juragan’ Belanda tapi juga bagi warga sekitar waduk.


Karena debit airnya yang realif stabil, akhirnya pada tahun 1970an, air waduk ini kemudian juga dijadikan sebagai sumber pembangkit listrik tenaga air yang sampai saat ini masih berfungsi sebagai pemasok energi listrik bagi warga kabupaten Bandung dan sekitarnya.


Menjadi destinasi wisata andalan kabupaten Bandung.

Terletak pada daerah pegunungan dengan udara sejuk dan pemandangan hijau di sekelilingnya, akhirnya pemerintah kabupaten Bandung mulai ‘menyulap’ kawasan situ Cileunca menjadi salah satu destinasi wisata andalah di daerah itu, Apalagi kawasan agrowisata Penaglengan yang telah lebih dulu eksis memang sejak dulu sudah ramai dikunjungi para wisatawan dalam maupun luar negeri. Kehadiran obyek wisata situ Cileunca semakin melengkapi ‘kesempurnaan’ daerah Penaglengan ini sebagai salah satu destinasi wisata andalan bagi pemerintah kabupaten Bandung.

Meski hanya berupa danau buatan, namun karena kealamian dan  kelestarian lingkungannya tetap terjaga dengan baik, membuat kawasan situ Cileunca akhirnya juga jadi incaran wisatawan pecinta alam, karena di seputaran danau juga menyediakan fisilats alam yang cukup menantang, ini sangat disukai para wisatawan petualangan.


Dari amatan penulis ditambah keterangan dari sang pemandu wisata itu, penulis jadi tau ada beberapa fasilitas rekreasi petualangan, meski karena keterbatasan waktu, penulis belum sempat mencobanya. Untuk masuk ke kawasan wisata ini pun, tiket masuk sangat murah, cukup merogoh ‘recehan’ lima ribuan, pengunjung sudah bisa menikmati pemandangan alam yang begitu mempesona ini seharian penuh. Namun untuk bisa menikmati fasilitas wisata lainnya, pengunjung juga harus merogoh koceh lebih dalam.


Ada beberapa paket wisata petualangan, mulai dari yang ‘biasa-biasa’ saja sampai yang menantang.


Camping Ground.

Menurut cerita sang pemandu, eksotisme Situ Cileunca akan semakin terasa pada malam hari, dengan lampu-lampu yang menghiasi sekeliling situ, membuat pengelola wisata di daerah ini juga menyediakan fasilitas out bound berupa camping ground atau tempat kemping alam untuk keluarga maupun kominitas pecinta alam. Menfaatkan hutan konservasi yang kelestariannya tetap terjaga, para pengunjung dapat mendirikan kemah-kemah mereka di seputaran situ ini untuk menikmati sejuk dan segarnya udara Pengalengan. Biaya untuk mendirikan kemah juga tidak mahala, hanya 20 ribu perorang semalam, bagi pengunjung yang tidak membawa perlengkapan kemping, juga bisa menyewa tenda dengan tarif antara 100 sampai 150 ribu sekali pakai, bisa dipakai 3 sampai 4 malam berkemah di tempat ini. Pengunjung juga tidak perlu jauh-jauh membawa perbekalan dari rumah, karena disekitar tempat ini juga banyak kios-kios yang menyediakan kebutuhan para pengunjung, mulai dari makanan, pakaian dan perlengkapan lainnya.

Rafting

Tempat pembuangan air waduk yang mengalir deras melalui Sungai Palayangan dengan liku-liku dan medan berbatu-batu yang sangat menantang merupakan areal yang paling dicari para penggemar rafting atau arung jeram. Ini yang juga kemudian dimanfaatkan oleh pengelola obyek wisata Situ Cileunca untuk menyediakan fasilitas rafting bagi para penggemar wisata menantang. Dengan mengeluarkan kocek sebesar 250 ribu rupiah, pengunjung sudah mendapat fasilitas sebuah perahu karet ukuran sedang yang bisa dianiki 4 orang plus seorang pemandu, masih dapat ‘bonus’ snack, minuman ringan dan sekali makan, cukup murah bukan?

Wisata Air

Bagi wisatawan keluarga, pengelola obyek wisata juga menyediakan fasilitas wisata air ditengah birunya air situ Cileunca. Dengan ‘budget’ 25 sampai 50 ribu rupiah per orang, wisatawan sudah bisa menikmati berkeliling situ dengan perahu wisaja sambil menikmati jernihnya air danau buatan ini. Ada dua pilihan bagi pengunjung yaitu menggunakan perau daung dengan durasi yang lebih lama atau bisa memilih perahu bermesin yang mampu melahirkan sensasi ‘membelah’ birunya air. Sambil meninkmati indahnya panorama sekeliling situ, pengunjung yang punya hobi memancing juga dipersilahkan untuk melemparkan kailnya, ada beberapa jenis ikan air tawar seperti ikan mas, nila dan tawes yang menjadi ‘penghuni’ danau buatan ini. Keasrian danau buatan ini semakin terlihat, karena tidak ‘terganggu’ oleh keramba-keramba ikan, karena pemrintah daerah maupun pengelola wisata memang tidak mengijinkan siapapun untuk mebuat keramba ikan di tempat. Menurut penjelasan sang pemandu, kehadiran keramba dapat merusak kelestarian air, karena biasanya budidaya ikan sistim keramba selalu menggunakan pakan pellet yang dalam waktu lama bisa mencemari air dan merusak habitat perairan.

Kebun Stroberi.

Di salah satu sisi danau buatan ini, juga terdapat hamparan kebun stroberi yang buahnya bisa dinikmati oleh pengunjung dengan memetiknya langsung dari pohonnya. Untuk sampai di kebun ini, dulu pengunjung memang harung ‘menyeberang’ dengan perhu sekitar 5 menit, namun sekarang sudah dibangun sebuah jembatan panjang yang menghubungkan tepian situ dengan lokasi kebun stroberi. Dan ditempat ini pengunjung dapat menikmati ranumnya buah berwarna merah ini sepuasnya hanya dengan membayar 20 rupiah saja.

Sementara untuk oleh-oleh, pengelola kebun stroberi juga sudah menyediakan buah stroberi segar dalam kantong jaring dengan harga 20 sampai 30 ribu per kilogramnya.


Mendengar penjelasan dari pemandu wisata yang memperkenalkan diri bernama Dedi Sujana ini, rasanya ingin sekali penulis bisa mencoba semua fasilitas wiasata yang ditawarkan disini. Sayangnya karena kepergian penulis ke tempat ini adalah dalam rangka mendampingi studi banding penyuluh pertanian untuk menimba ilmu dan pengalaman di beberapa kawasan pertanian di daerah ini, akhirnya terpaksa penulis hanya memendam ‘mimpi’ ini untuk sementara waktu. Tapi dalam hati, sedah terkemas keinginan untuk kembali lagi ke tempat dengan pesona alam luar biasa ini, entah kapan bisa terwujut impian ini, hanya waktu jualah yang akan menjawabnya. Namun penjelasan yang penulis dengan dari kang Dedi sudah cukup mengobati keingin tahuanku tentang Situ Cileunca yang selama ini hanya bisa bisa penulis dapatkan dari brosur wisata.

Penulis: Fathan Muhammad Taufiq
Diberdayakan oleh Blogger.