Header Ads

Inilah 6 Lokasi Wisata Heritage Paling Populer di Kota Makassar Yang Layak Untuk Dikunjungi

Makassar menyimpan beragam kekayaan peninggalan sejarah dan budaya. Selain menikmati beragam olahan kuliner spesial, Anda dapat menjajal destinasi wisata heriatage di sejumlah ruas di kota ini.

Wisata Heritage di Sulawesi - Nah, agar tidak bingung, kami merekomendasikan beberapa objek wisata heritage yang ada di kota Makassar yang banyak dikunjungi dan masih menjadi hits di Makassar.

1. Fort Rotterdam
Lokasinya relatif dekat dengan Pantai Losari Makassar. Berjarak tempuh sekitar 26 menit atau 19,2 km dari bandara Sultan Hasanuddin Makassar.

Benteng Ujung Pandang atau yang dikenal dengan dengan nama Fort Rotterdam  menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di kota Makassar. Di akhir pekan, objek wisata sejarah ini ramai dikunjungi oleh wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.

Fort Roterdam dikenal sebagai salah satu situs sejarah di Makassar. Namun, selama penyelenggaraan Makassar International Writers Festival (MIWF) 2016, taman yang berada di Fort Rotterdam berubah menjadi ruang baca bagi warga Makassar.

Lokasinya yang cukup eksotik dan berada di wilayah pesisir Makassar menjadi daya tarik tersendiri bagi warga. Begitupun dengan arsitektur bangunan dan luasnya ruang terbuka yang membuat pengunjung merasa nyaman serta menjadi pilihan lokasi yang menarik untuk mengabadikan gambar.

Di dalam Fort Rotterdam terdapat beberapa ruangan tahanan atau penjara yang salah satunya dipakai untuk menahan Pangeran Diponegoro serta terdapat juga sebuah gereja yang dibangun pada jaman penjajahan Belanda.

Ada juga Museum La Galigo yang menyimpan lebih dari 5000 koleksi yang diantaranya merupakan koleksi numismatic, prasejarah, keramik, naskah, naskah serta etnografi yang terdiri dari beberapa jenis teknologi, kesenian serta berbagai benda lain yang digunakan oleh suku Bugis, Mandar, Toraja dan Makassar.

2. Makam Raja Tallo
Berlokasi di Jl Sultan Abdullah Raya, kelurahan Tallo, kecamatan Tallo. Sekitar 8 km sebelah utara titik 0 kota Makassar. Berjarak tempuh sekitar 20 menit atau 15 km dari bandara Sultan Hasanuddin.

Kompleks makam ini dibangun sekitar abad ke-17 dan merupakan tempat pemakaman Raja-raja Tallo abad ke-17 hingga abad ke-19.

Kerajaan Tallo dulunya merupakan bagian dari kerajaan Gowa. Namun, pada masa pemerintahan Raja Gowa VI yakni Tunatangkalopi, kerajaan Gowa dibagi menjadi dua (Gowa dan Tallo) dan diserahkan kepada kedua puteranya.

Kedua kerajaan baru tersebut kemudian membentuk suatu persekutuan yang kekuasaannya sangat berpengaruh di wilayah Indonesia bagian timur.

Di kawasan kompleks terdapat sejumlah makam raja-raja Tallo maupun utusan kerajaan dari luar Sulsel.

Ketika memasuki kawasan kompleks, suasana sejuk langsung menyambut. Beberapa pohon berdiri dengan kokohnya, memayungi area makam dari teriknya matahari.

Adapula area khusus berjalan kaki, semakin memudahkan langkah pengunjung menapaki sejarah kerajaan Tallo. Di bagian belakang makam, berdiri sebuah rumah panggung nan megah. Dapat menjadi tempat beristirahat bagi pengunjung usai mengelilingi area kompleks.

3. Monumen Korban 40 Ribu Jiwa
Bagi Anda yang sedang berada di Kota Makassar dan ingin menjajal objek wisata yang memiliki nilai-nilai sejarah yang kental, tak ada salahnya memilih monumen Korban 40.000 jiwa.

Monumen ini berlokasi di Jl Langgau, Kelurahan Timungan Lompoa, kecamatan Tallo. Berjarak tempuh 26 menit atau sekitar 17,4 km dari bandara Sultan Hasanuddin Makassar.

Dapat juga diakses melalui Jl Korban 40.000 jiwa yang lokasinya lebih dekat dengan Jl Pongtiku.

Monumen Korban 40.000 jiwa berdiri di atas taman yang cukup asri. Dikelilingi tumbuhan dan pepohonan hijau yang membuat rindang suasana sekitar.

Pantauan Tribun Timur belum lama ini, saat memasuki monumen, pengunjung disajikan dengan pemandangan sebuah patung besar yang menyerupai seorang laki-laki dengan kondisi kaki buntung dan lengan yang disangga.

Disampingnya, terdapat relief yang menggambarkan kondisi pembantaian warga setempat kala itu.

Dimana mereka dikumpulkan di sebuah tempat yang lapang, kemudian dibantai oleh pemberontak pasukan khusus Belanda.

Salah seorang warga Jl Korban 40.000 Jiwa, Hj Kanang menuturkan, dengan berkunjung ke monumen ini, pengunjung secara tidak langsung merefleksikan kejadian masa lalu.

Bagaimana perjuangan rakyat dibantai dalam sebuah operasi yang dilakukan pasukan Belanda.

4. Makam Pangeran Diponegoro
Berlokasi di Jl Pangeran Diponegoro, Melayu, Kecamatan Makassar, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Berjarak tempuh sekitar 26 menit atau 17,9 km dari bandara Sultan Hasanuddin Makassar.

Merupakan bangunan sederhana yang terdiri dari pintu gerbang, pendopo dan 66 bangunan makam.

Yakni, 2 makam ukuran besar, 25 makam ukuran sedang, dan 39 makam ukuran kecil. Makam-makam tersebut adalah makam Diponegoro dan istrinya, 6 orang anaknya, 30 orang cucu, 19 orang cicit dan 9 orang pengikutnya. Di bagian dalam kompleks terdapat beberapa makam dan sebuah bangunan yang berfungsi sebagai aula dengan dua kamar, berhadapan dengan musholla berukuran 6 meter persegi.

Pintu depan makam terdapat sebuah gapura berasitektur Jawa dengan bentuk simetris berdiri kokoh di bagian depan halaman, yang menjadi akses masuk pengunjung. Tulisan di bagian atas gapura tersebut sekaligus menjadi penanda identitas bangunan kecil yang bersih dan terawat itu.Seperti halnya pemakaman umum lainnya, makam Pangeran Diponegoro juga terdapat beberapa batu nisan dengan pepohonan kamboja berukuran sedang. Makam Pangeran Diponegoro yang berdampingan dengan makam sang istrinya, Raden Ayu (RA) Ratna Ningsih cukup menonjol dibanding makam lainnya. Tempat peristirahatan setinggi dua meter itu dilengkapi cungkup berbentuk bangunan khas Jawa yang bergaya Joglo.

5. Museum Kota Makassar
Berlokasi di Jl Balaikota No.11, Kecamatan Makassar, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Berjarak tempuh 28 menit atau 19,8 km dari bandara Sultan Hasanuddin via Jl Tol Ir Sutami.

Merupakan sebuah gedung tua berlantai dua dengan sentuhan arsitektur bergaya Eropa abad ke-17. Dinding tebal, jendela berornamen kayu yang lebar dan beberapa ornamen gantung yang masih utuh terjaga membuat bangunan ini terlihat berdiri kokoh.

Karena letaknya yang berada di kota Makassar maka gedung ini diberi nama Museum Kota Makassar. Dibangun sekitar tahun 1916 dan kini gedung bersejarah ini menyimpan beragam koleksi benda bersejarah yang berjumlah 560 koleksi.

Memasuki pekarangan Museum Kota Makassar, pengunjung akan disambut oleh sebuah meriam yang diperkirakan berusia 300 tahun. Bangunan ini didominasi warna putih pada dinding dan merah marun pada bagian atap.

Ketika mulai melangkahkan kaki ke dalam museum, suasana kolonial Belanda yang kental akan menemani perjalanan selama di dalam museum. Perjalanan Kota Makassar dari zaman ke zaman, terekam dalam gedung ini.

Lantai pertama terisi dengan berbagai lukisan klasik peninggalan Belanda, foto-foto dokumentasi perkembangan Kota Makassar.

Adapula benda-benda arkeologi, dan berbagai mata uang yang pernah berlaku di Makassar dari zaman penjajahan hingga saat ini.

Di lantai dua juga didominasi foto-foto dokumentasi, sebuah meja yang pernah digunakan oleh Walikota Ujung Pandang, lambang-lambang kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan dan berbagai pernak pernik tradisional hasil kerajinan rakyat.

6. Gedung Kesenian
Gedung yang berjuluk Societeit De Harmonie berlokasi di Jl Riburane No.15, Pattunuang, Wajo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Berjarak tempuh sekitar 30 menit atau 19,3 km via Jl Tol Ir Sutami.

Saat ini sering digunakan sebagai tempat untuk menampilkan berbagai pagelaran seni budaya dan seni teaterikal budayawan Sulawesi Selatan.

Sejumlah aktor memainkan peran dalam Pementasan Teater Grisbon ‘Perubahan Cuaca’ di Teater Tertutup Gedung Kesenian Societeit de Harmonie, Jl Ahmad Yani, Makassar.

Memiliki luas 55,7 x 42,5 meter dan berdenah membentuk huruf L memiliki arsitektur khas Eropa gaya Renaissance atau Yunani Baru. Menjadi bangunan peninggalan Kolonial Belanda. Tergambar pada desainnya di bagian depan. Sangat identik dengan gaya Eropa.

Penulis: Nurul Adha Islamiah
Diberdayakan oleh Blogger.