Header Ads

Tempat Pembuangan Akhir Sampah Talangagung Merupakan Destinasi Wisata Edukasi Sampah

Sebagian besar masyarakat selama ini pasti banyak yang menganggap Tempat Pembuangan Akhir (TPA) identik dengan tempat yang kotor, kumuh, jorok dan juga bau. Namun anggapan tersebut akan segera sirna saat masyarakat mengunjungi TPA Wisata Edukasi Talangagung yang berada di daerah Kepanjen Kabupaten Malang.


TPA Talangagung - Di tempat ini, suasana kumuh khas TPA pada umumnya justru tidak terlihat dan berganti dengan suasana yang sejuk, teduh, dan nyaman. Bahkan aroma tumpukan sampah yang menjadi ciri khas tidak tercium di TPA yang dibangun diatas lahan seluas 2,5 hektar tersebut. Sesuai dengan namanya TPA ini tidak hanya dijadikan sebagai tempat pembuangan akhir sampah tetapi juga di manfaatkan sebagai tempat wisata dan edukasi. Adalah Koderi bersama dengan teman-temannya di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang yang menjadi inovator hadirnya TPA  Edukasi Wisata Talangagung.

Koderi menceritakan, latar belakang  hadirnya TPA wisata edukasi adalah karena adanya regulasi Undang-undang (UU) nomor 18 tahun 2008 mengenai pengelolaan sampah.

“Kalau dulu sampah hanya dipandang sebagai sampah, namun sekarang sampah dipandang sebagai sumberdaya yang masih memiliki nilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan,” jelas Koderi kepada Cendana News.

Sedangkan fenomena pengolahan sampah khususnya di TPA di Indonesia masih banyak yang melanggar Undang-undang. Padahal menurut UU, untuk kategori kota kecil, kota sedang, minimal TPA menggunkan sistem control landfill (sistem pengelolaan TPA urug terkendali) sedangkan untuk kota besar dan kota politan itu Sanitary Landfill. Sementara di Indonesia masih banyak TPA yang mengunakan sistem Open Dumping.

Kemudian berdasarkan regulasi Peraturan Pemerintah (PP) 18 tahun 2008 mengenai penetapan Kepanjen sebagai Ibu kota Kabupaten Malang berdampak pada keberadaan TPA yang dulunya berada di pinggir kota. Dengan adanya PP tersebut, sekarang TPA  justru berada di jantung kota Kepanjen. Padahal banyak ditolak masyarakat karena ada konotasi bahwa TPA merupakan tempat yang  jelek, kotor dan bau. Inilah yang menjadi tantangan bagi pemerintah kabupaten Malang.

“Atas arahan pimpinan mulai dari Bupati dan kepala Dinas, dari situ saya bersama dengan pak Renung Rubiyartaji dan Rudi Santoso berfikir bersama kawan-kawan yang lainnya mencari solusi bagaimana menyelesaikan tantangan tersebut. Kami juga memikirkan serta bagaimana cara agar TPA itu bukan sebagai tempat pembuangan sampah tetapi sebagai tempat pemrosesan akhir,”tandasnya.

Akhirnya Koderi bersama timnya sepakat bahwa pengelolaan TPA harus sesuai dengan kaidah-kaidah lingkungan. Kemudian TPA itu harus teduh, asri dan memiliki manfaat bagi masyarakat, sebagai tempat pembelajaran dan juga wisata. Oleh sebab itu TPA  Edukasi Wisata Talangagung dilengkapi dengan gazebo, taman, pepohonan sebagai zona penyangga, tribun edukasi, tempat berkemah dan tempat mandi “Susu Tante Jupe” (Sumbangan Sukarela Tanpa Tekanan Juga Pemaksaan) yang memanfaatkan gas methane untuk merebus air.

“Jadi kami ingin membalikkan citra TPA yang dulunya dipandang sebagai tempat yang jelek, bau dan jorok menjadi tempat yang nyaman. Bahkan kita beredukasi sekaligus berwisata di TPA ini,” ucapnya.

Tempat perkemahan
Sejak 2010, kita terus memperbaiki diri dan TPA ini sudah direplikasi ke 80 kota Kabupaten di Indonesia. Banyak instansi-instansi dari luar kota yang melakukan studi banding disini.

Lebih lanjut Koderi menegaskan, meskipun berada di TPA tidak boleh ada yang membuang sampah sembarangan, karena sampah hanya boleh ada di tempat sampah dan zona pembuangan. Jika sampai didapati ada yang membuang sampah sembarangan akan langsung ditembak di tempat.

“Maksudnya ditembak di tempat yaitu kita tembak perasaan mereka yang membuang sampah sembarangan. Misalnya ada orang yang buang puntung rokok sembarangan, langsung saya tembak dengan kata-kata dan perbuatan. Saya langsung ambil puntung rokoknya dan mengatakan Permisi ya pak, buang puntung rokoknya bukan disini, ini ada tempat sampahnya,” tuturnya.

Dari tempat ini pihaknya ingin membentuk agen-agen baru  dengan motto Lisa (lihat sampah ambil) untuk meciptakan Indonesia bebas sampah 2020.

Sementara itu, Budi Iswoyo, Kepala Dinas Lingkungan Hidup mengatakan, ke depannya akan menjadikan TPA  Edukasi Wisata Talangagung  tidak hanya sebagai pusat kajian saja tetapi juga menjadi tempat pelatihan teknologi persampahan.

“TPA Talangagung saat ini sudah menjadi pusat kajian pengembangan penerapan teknologi persampahan. Kalau kajian kan hasilnya, kemudian sekarang kita sampaikan kepada siapa saja yang berminat sehingga tidak hanya menjadi pusat kajian tetapi juga tempat pelatihan teknologi persampahan,” ucapnya.

“Jadi nanti pak Koderi dan pak Renung bisa menjadi instruktur, sehingga diharapkan bisa menjadi satu-satunya tempat pelatihan Nasional. Nanti kami juga akan bekerjasama dengan pihak kementerian,” tandasnya.

Selanjutnya karena di TPA ini sudah tersedia tempat perkemahan jadi siapa saja boleh kemah disini asalkan mereka izin terlebih dulu. Di tempat tersebut juga akan dibangun jaringan gas methan di belakang lokasi perkemahan dan air bersih, sehingga pada saat berkemah hanya tinggal membawa panci untuk memasak karena kompor sudah disediakan disini.

Di tribun Edukasi juga akan diberi layar dan proyektor sehingga bisa digunakan untuk menonton film mengenai edukasi sampah yang bisa diputar pada saat ada perkemahan. Pihaknya juga sediakan silabus pada saat pelatihan.

“Sesuai dengan motto kami yakni inovasi tiada henti, nantinya TPA ini akan menjadi paket wisata lingkungan bersama dengan tempat wisata lainnya di Kepanjen,” terangnya.

Tribun edukasi
Nanti TPA  Edukasi Wisata Talangagung juga ada kolam air hangat dengan memanfaatkan gas methan. Kemudian wisatawan diajak ke hutan metro yang akan dikemas lagi menjadi hutan edukasi yang lengkap dengan wisata kulinernya. Selanjutnya  ke Siphon metro yang sudah ada sejak jaman Belanda.

“Kami juga akan menyediakan guide  di masing-masing tempat wisata untuk memandu para wisatawan,”tutupnya.

Penulis: Cyril | Cendana News
Diberdayakan oleh Blogger.