Header Ads

Pesona Keindahan Destinasi Wisata Guha Tujoh Tergerus Akibat Aktivitas Tambang

Hawa terasa sunyi ketika Tarmizi perlahan menapaki jalan bertanah ke Guha Tujoh. Di dalamnya, ia menyaksikan bebatuan yang memampat setiap sisi gua. Gantungan karang-karang yang membentuk kristal menghiasi langit-langit gua. Kala itu, tepat dua dasawarsa yang lalu, gua ini masih menyemat nuansa spiritual yang tinggi.

Wisata Pidie - Masyarakat sekitar menyimpan banyak cerita mistis karenanya. Dari kisah-kisah tentang Khalut—pertapaan para ulama, hingga yang paling sering terdengar, yakni jalur perjalanan Guha Tujoh yang muaranya sampai ke tanah suci Makkah, menjadi penggalan-penggalan yang dikisahkan Tarmizi kepada Pikiran Merdeka, Jumat (18/8) pekan lalu.

Disebut sebagai Guha Tujoh, konon di dalamnya terdapat tujuh terowongan panjang yang belum diketahui seberapa panjang jaraknya. Selain sebagai tempat bertamasya, Guha Tujoh lebih dikenal sebagai lokasi pertapaan para ulama. Pengalaman spiritual tentang Guha Tujoh telah menjadi kepercayaan turun-temurun masyarakat Pidie, khususnya mereka yang telah lama berdiam di Desa Cot Laweung, Kecamatan Muara Tiga, tempat Guha Tujoh berada.

“Bahkan dulu tahun 1997, pernah datang anak seorang ulama besar dari tanah Jawa, dia gadis berusia sekitar 27 tahun. Pemuda setempat yang belum tahu mencoba bertanya-tanya apa gerangan kedatangan perempuan itu. Saat dia jawab ingin khalut ke Guha Tujoh, mereka pun mundur, tak ada yang berani main-main jika itu perihal Guha Tujoh,” kata Tarmizi.

Cerita lainnya, pernah suatu kali beberapa orang remaja ingin mengunjungi Guha Tujoh. Di sana, mereka tak kunjung menemukan gua tersebut meski telah mengitari kawasan itu beberapa kali. Sampai salah seorang di antara mereka pergi bertanya ke warga kampung. Mengaku tersesat, para remaja ini lalu dibantu seorang warga desa setempat. Mereka diberi petunjuk, jika ada batang pohon besar menjulang tinggi di situlah letak Guha Tujoh. Syaratnya, salah seorang di antara mereka harus mengumandangkan azan.

“Harus bersihkan hati, berzikir, kadang ada kejadian seperti itu, pandangan disamarkan,” ungkap Tarmizi.

Ketika itu ia masih menjabat ketua pemuda Gampong Kulee. Ia juga ingat salah seorang sosok ulama yang amat disegani di Pidie, Tgk Muhammad Yusuf. Masyarakat lebih akrab menyebutnya Tgk Abi Pasie. Dia dikenal sebagai pemelihara spiritualitas Guha Tujoh. “Beliau  yang menentukan tata cara khalut yang benar, biasanya siapapun yang ingin masuk ke Guha Tujoh, mereka akan minta nasihat ke Abi Pasie,” ujarnya.

Di pondok dayah milik Abi Pasie, bersemayam makam seorang ulama bernama Tgk Chik Di Tambon. Di makam itulah pertama-tama ulama melakukan khalut, sebelum naik ke Guha Tujoh. Sekitar sebulan khalut di makam tersebut, selanjutnya baru menghadap ke Abi Pasie untuk diberitahukan sejauh mana ia mampu melanjutkan khalut ke Guha Tujoh. “Tahapan seperti itu untuk kesempurnaan khalut,” tambah Tarmizi.

Tekstur di dalam Guha Tujoh punya banyak keunikan. Siwah Rajawali, misalnya, membentuk elang dalam posisi sujud. Penanda tahap pengabdian makhluk kepada sang Pencipta. Selain itu, di dalam gua juga kandungan kapur yang jatuh lalau membentuk sesuatu yang belakangan menyerupai patung.

“Ada patung pengantin dan patung sapi. Tapi bukan itu sebenarnya, hanya mirip saja. Pengapuran yang membentuk jadi demikian. Hal semacam ini jadi daya tarik pengunjung saja, dan sejumlah bentukan seperti patung bisa dijadikan pengenal tempat di dalam gua itu. Untuk memudahkan panduan bagi wisatawan,” jelas Tarmizi. Belakangan, beberapa bentukan itu ada yang rusak akibat diguncang gempa.

Sepeninggal Abi Pasie, kondisi Guha Tujoh mulai tampak diabaikan. Suasana religius dalam gua tersebut juga kian terkikis. Coretan di mana-mana. Sampah juga berserakan. “Padahal semasa beliau masih hidup, tidak sembarang aktifitas boleh dilakukan di sekitar guha,” sahut pria yang pernah menjabat Mukim di Kecamatan Batee pada 2014 ini.

Saat ini, Guha Tujoh adalah salah satu dari sekian potensi alam Pidie yang membentang di kawasan Hak Guna Usaha (HGU) milik PT Semen Indonesia Aceh. Di lahan seluas 9.343.700 meter persegi yang menjadi wilayah penambangan batu gamping perusahaan ini, ternyata banyak bersemayam makam syuhada. Tarmizi merinci setiap makam tersebut; makam Tgk Jeureulik, Tgk Taleuk si Itam, Tgk Lhok Mon Hagu, Tgk Lhok Mon Muni, Tgk Cot si Gunci, Tgk Jambo Raya, Tgk Ara Cicem, Putro Ijo, dan beberapa terletak di kawasan pesisir, yakni makam Tgk Lueng Gajah, Tgk Malem Panyang, dan Tgk Panita.

“Kami tahu semua makam tersebut karena dulu orang yang bercocok tanam cabai, kacang, jagung, tomat, dan sebagainya, karena jika panen sering mengadakan syukuran dan doa bersama di makam tersebut. Saya harap makam-makam tersebut bisa dijaga,” ujar Tarmizi.

Keberadaan makam para ulama di dalam kawasan perusahaan dikhawatirkan masyarakat sekitar. Tidak hanya itu, dalam kawasan tersebut juga terdapat sekitar sepuluh embung yang menyimpan air untuk pertanian dan ternak warga. “Kalau embung sudah dipagari oleh perusahaan, ternak tidak ada tempat lagi untuk diberi makan dan minum,” aku Tarmizi.

Di tepi pantai Lhok Muni juga terdapat satu massjid kuno, namanya Masjid Po Teumeureuhom. Paparan Tarmizi, mihrabnya mesjid ini masih tegak. Hanya saja bencana tsunami telah memangkas sekian luas pantai tersebut, lantas meninggalkan sebagian bangunan masjid. Tarmizi bersama rekan-rekan gampong atas nama majelis taklim pernah beberapa kali membersihkan masjid Po Teumeureuhom. Mereka juga sering mengadakan kenduri di mesjid tersebut. Kenduri selalu disertai salat berjamaah dan doa bersama.

“Kalau masjid, akan selamanya sebagai masjid, tidak bisa diganti rugi, tidak bisa diruntuhkan. Ada nilai sakral yang amat kuat dari masjid ini. Sampai sekarang, akses ke masjid masih bisa, karena belum ada pengerjaan perusahaan ke kawasan tersebut,” Tarmizi menambahkan.

Ada ancaman terhadap mata pencaharian yang membekap masyarakat di Kulee setelah kawasan itu dikepung industri PT SIA. Di antaranya mengenai hasil hutan seperti jambu, madu, rotan, batu cendana, dan kayu-kayuan yang biasanya menjadi sumber pendapatan warga. Demikian juga dengan hasil garam. Selama ini Kecamatan Batee, sebagian kota Sigli, dan sebagian Simpang Tiga dikenal sebagai daerah penghasil garam.

“Selain Guha Tujoh, ada beberapa gua lagi yang saya hitung masuk ke kawasan perusahaan. Ada Guha Krueng, Guha Uleu, Guha Sarang, Guha Ek Seumantong, dan Guha Tok Nara,” beber Tarmizi.

Dari sekian banyak gua tersebut, beberapa di antaranya ada menjadi objek wisata yang sering dikunjungi, sisanya menjadi tempat sarang walet yang pengelolaannya dilakukan bersama-sama. “Itu milik masyarakat gampong Kulee, hasil keuntungan dari itu kami membangun  Meunasah, juga kami beli sapi terutama saat meugang dan membantu fakir miskin, banyak sekali keuntungannya,” katanya.

POTENSI KARST
Direktur Karst Aceh Abdillah Imran Nasution menuturkan, keberadaan Guha Tujoh sebagai potensi wisata sekaligus cagar budaya di Kabupaten Pidie penting sebagai jaminan atas terjaganya kawasan tersebut dari ancaman eksploitasi tambang.

“Dalam kacamata iklim mikro, bisa dilihat di sana, sebagai cagar budaya, maka 200 meter di sekitarnya tidak boleh diganggu. Itu untuk mempertahankan agar dia tetap lembab. Jadi di sekeliling gua itu harus ditanami pohon-pohon. Jangan sampai ada akses penebangan di situ,” ia menekankan.

Hingga kini, memang belum ada kajian khusus mengenai karst di kawasan tersebut. Namun jika bicara potensi hidrologi, bisa dilakukan Water Tracing atau pelacakan aliran air. “Kalau memang tidak ada, maka berasal dari tadah hujan, dampak pertambangan terhadapnya itu berapa meter, belum lagi model penambangannya, blasting, atau bagaimana? Apa pernah lihat setplan mereka? Itu perlu dibicarakan,” kata Imran.

Potensi hidrologis juga ditemukan dalam kajian LSM KEMPRa mengenai ekspedisinya pada Maret lalu ke kecamatan Muara Tiga. Pengkajian tersebut semula guna memastikan kawasan karst dan biota satwa di Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) PT SIA.

Dari ekspedisi tersebut, ditemukan adanya bentang alam karst, yakni Guha Tujoh. Selain itu masih banyak gua yang tersebar pada wilayah anggota Batugamping Lam Kabeue, di antaranya  Guha Uleu dan Guha Rimueng. Selain itu, terdapat telaga di sekitar Guha Tujoh.  “Berdasarkan penjelasan masyarakat setempat, telaga tersebut belum pernah mengering walau berukuran sekitar 20 kali 30 meter,” kata pegiat lingkungan dari KEMPRa, M Oki Kurniawan.

Keberadaan embung di sebelah barat Anggota Batugamping Lam Kabeue yang berada di ketinggian 25 mdpl, juga menguatkan potensi hidrologi yang ada di sana. Sumber air pada embung tersebut berfungsi untuk mengairi persawahan masyarakat di lima desa, yaitu Pawod, Keupula, Mesjid, Tgk Di Laweung, dan Gampong Cot.

Di Kecamatan Batee, terhampar tambak-tambak ikan milik masyarakat desa. Dari penjelasan warga setempat, sumber air untuk tambak juga berasal dari rembesan air di perbukitan Batugamping Lam Kabeue.

Namun, pada akhirnya, melestarikan potensi alam sama pentingnya dengan nilai sejarah dan spiritual yang terdapat pada pada makam-makam ulama yang membentang di kawasan ini. “Nilai spiritual yang dimiliki Guha Tujoh perlu terus dijaga, diturunkan ke setiap generasi kita. Cerita ini perlahan dilupakan. Dengan menjaga situs spiritual seperti Guha Tujoh, secara tidak langsung kita ikut terdorong untuk memperhatikan kembali segala aspek penting di kawasan itu,” pungkas Imron.

PERUBAHAN AMDAL
Terkait keberadaan makam para ulama di wilayah perusahaan, Tarmizi menggelengkan kepala. “Tak pernah ada pembicaraan apapun, soal Amdal perusahaan saja kami tak tahu apa isinya, apalagi harus membahas yang lain,” aku Tarmizi.

Kelangsungan potensi alam di sekitar pabrik semen Laweung kini bergantung pada Amdal perusahaan yang kini tengah dalam tahap adendum. Segala hal, baik mengenai pemeliharaan, penyertaan modal, sarana ibadah, kesehatan, pendidikan, polusi, air, semua seharusnya dimuat dalam Amdal perusahaan.

“Terdapat cekungan air tanah di wilayah ini. Jika tak ada dikaji secara komprehensif, kita khawatirkan sumber daya air di desa kami bisa terancam. Upaya semacam ini seharusnya sejak awal dibahas dalam amdal,” kata Tarmizi.

Ia khawatir, jika tidak diselesaikan sekarang, segala kejadian buruk di masa mendatang akan sulit ditangani. “Masalah selain amdal yakni soal ganti rugi lahan. Meski sudah diklaim selesai dengan keluarnya sertifikat hak pakai. Namun yang kami tahu itu banyak kejanggalan,” imbuhnya. Apalagi, pada masa konflik, kata Tarmizi, proses administrasi terkait pengurusan lahan hanya 50 persen yang berjalan. Masyarakat saat itu takut dengan situasi konflik, jadi tidak ada yang sempat permasalahkan kepemilikan lahan mereka.

Tarmizi yang saat ini membidangi adat istiadat di Majelis Adat Aceh (MAA) Kabupaten Pidie juga sering berkonsultasi dengan rekan-rekannya. Ia berharap, proses pembaruan Amdal bisa melibatakan masyarakat. “Ketika proses amdal terjadi, MAA Kabupaten harus dilibatkan. Karena di Aceh ini kan mengakui pemerintahan adat. Geucik, mukim, ini kan bagian dari adat. Jadi ketika ada mukim, maka tanah-tanah adat ini kan juga harus dibahas,” sahutnya.

Seperti banyak warga masyarakat di Laweung, Tarmizi juga mendukung keberadaan industri semen. “Hanya saja tolong tuntaskan apa yang selama ini menjadi persoalan antara masyarakat dan perusahaan, dan diperjelas apa upaya untuk menjaga potensi alam yang ada di sini,” tutupnya.

Menanggapi hal tersebut, Direksi PT Samana Citra Agung, memberi ketarangan berbeda. Perusahaan yang sejak lama menangani pembebasan lahan untuk pembangunan pabrik semen PT SIA ini meyakini bahwa Guha Tujoh telah masuk dalam kawasan yang di-enclave. Artinya, dikeluarkan dari area penambangan.

“Untuk Guha Tujoh, telah di-enclave. Seluas 100 hektar. Waktu itu oleh bapak bupati tahun 1993 ketika pembebasan lahan, dan saat kajian dari UGM saya juga ikut. Dari situ diketahui guanya sudah mati. Tidak ada air lagi dalam gua itu. Kering,” aku Yusri.

Ia kemudian memastikan, posisi Guha Tujoh aman dari proyek perusahaan, dan hal itu sudah menjadi tanggung jawab pemrakarsa Amdal, sampai kapanpun. “Kalau ada kesalahan mereka yang kena. Kajian yang dilakukan juga sudah mendalam,” tambahnya.[]

Penulis: Fuadi Mardhatillah
Dokumentasi: Oviyandi Emnur
Diberdayakan oleh Blogger.