Header Ads

Inilah Seputar Mitos - Mitos Vulgar Pada Taman Sari Yogyakarta

Taman Sari adalah satu diantara beberapa peninggalan sejarah yang berharga di Keraton Yogya. Kini kawasan itu jadi lokasi wisata yang ramai dikunjungi masyarakat yang penasaran dengan sejarah bangunan itu.

Jogja Istimewa - Tak heran jika di kawasan itu ada pemandu wisata yang mendampingi wisatawan, mereka memberikan pengetahuan kepada pengunjung fungsi bangunan itu pada tempo dulu.

Sayangnya cerita-cerita itu ditambahi dengan mitos-mitos tak tepat yang diberikan kepada wisatawan. Apa saja mitos itu?

Pertama; Taman Sari adalah tempat Sultan terdahulu menghabiskan waktu bersama para putri, ada pula mitos yang disebarkan di kawasan itu Sultan melempar bunga ke kolam untuk memilih perempuan mana yang akan diajak (bercinta-red)

Mitos lain yang ada tempat tertentu yang dimitoskan barang siapa berciuman disana maka hubungan akan langgeng. Pertanyaanya benarkan info yang diberikan itu benar adanya?

Penghageng Kraton Yogyakarta, KRT Jatiningrat menegaskan jika fungsi utama Taman Sari merupakan tempat peristirahatan Sultan dan keluarga.

Pria yang akrab disapa Romo Tirun membantah info sensasional yang menceritakan Sultan menghabiskan waktu di Taman Sari untuk melihat para putri mandi.

"Wah itu cerita nggak bener dan hanya mencari sensasional kalau diceritakan Sultan ada di bangunan atas Kolam Binangun lalu melemparkan sesuatu, melihat putri-putri mandi dan sebagainya, itu keterlaluan dan nggak bener," tegasnya ketika dihubungi Tribun Jogja, Minggu (3/1/2016).

Taman Sari, imbuh Romo Tirun, merupakan tempat peristirahatan Sultan di tengah kejengahannya memikirkan permasalahan yang terjadi di negaranya.

"Bangunan di sana dibangun sedemikian rupa. Sehingga kalau ada bahaya, Sultan dan keluarga yang sedang beristirahat di Taman Sari bisa menyelamatkan diri ke luar kota melalui lorong bawah tanah yang sekarang sudah ditutup," kata Romo Tirun.

Romo Tirun adalah orang yang seringkali diminta sebagai narasumber pembekalan sejarah Kraton kepada para guide baru mengatakan, patokannya adalah denah. Ketika mereka bisa menguasai denah, mereka akan menjadi guide yang lurus.

Mitos-mitos itu terungkap setelah seorang Arkeolog yang kebetulan mengunjungi Taman Sari memaparkan kesaksian wisatawan yang ia temui di sana.

Wisatawan tersebut mendengar cerita dari oknum pemandu wisata yang menyebutkan bahwa di Taman Sari, Sultan pernah melempar bunga ke kolam untuk memilih perempuan mana yang akan diajak beliau (bercinta, red).

"Cerita soal pelemparan bunga itu sering kali saya dengar, baik saat berbincang dengan wisatawan maupun guide yang memandu saya."katanya.

Dia kemudian sempat bertanya kepada oknum para pemandu wisata itu, alasan menceritakan cerita vulgar kepada wisatawan Taman Sari.

Alasan yang diutarakan pemandu wisata yang bersangkutan pun tak jauh-jauh dari masalah pendapatan mereka sebagai guide, yakni bahasa perut.

"Kalau tidak memberikan cerita seputar sex, akan hambar dan kering. Itu berpengaruh terhadap banyaknya wisatawan dan juga peningkatan pendapatan mereka. Jadi bisa dibilang kalau cerita tersebut sangat menjual sehingga mereka gunakan untuk meraup penghasilan yang lebih tinggi," imbuhnya. (*)

Penulis: Hamim Thohari
Diberdayakan oleh Blogger.