Header Ads

Bubur India Merupakan Menu Takjil Khas Masjid Pekojan Semarang

Kota Semarang, Jawa Tengah memiliki kuliner khas yang hanya ada saat bulan Ramadan. Menu itu adalah bubur India yang hanya tersaji di Masjid Jami Pekojan di Jalan Petolongan No 1, Purwodinatan, Semarang Tengah, Semarang. Sudah lebih dari seabad takmir masjid selalu menghadirkan takjil khas tersebut.

Kuliner Semarang - Meski namanya Bubur India, kuliner ini tidak didatangkan langsung deri negeri Bollywood, melainkan racikan pengurus masjid yang menunya sudah ada sejak lebih dari 100 tahun lalu. Menu itu berasal dari pedagang asal India yang menetap di daerah Petolongan.

Bubur mulai dibuat setelah shalat dhuhur menggunakan kuali tembaga besar karena harus mengolah 20 kg beras sekaligus setiap harinya. Satu atau dua jam menjelang berbuka, bubur itu dituangkan pada 200 mangkuk warna-warni di sisi Utara Masjid, namun banyak juga warga yang berdatangan membawa mangkuk sendiri.

Penyajian bubur India biasanya didampingi susu atau kopi, kurma, dan satu jenis buah lainnya. Bubur tersebut juga disajikan dengan lauk yang berbeda setiap harinya namun tetap tidak mengubah citarasa rempah di dalam bubur yang gurih itu.

"Ini cuma ada di bulan Ramadan," kata salah satu pembuat bubur, Ahmad Ali (53) saat ditemui di Masjid Jami Pekojan.

Meski saat berbuka bubur sudah tidak hangat, namun masih cukup lezat disantap. Rahasia nikmatnya Bubur India ada pada bumbu yang terdiri dari jahe, wortel, daun salam, serai, kayu manis, santan dan Garam. Bahan-bahan itu dicampur dalam beras di kuali tembaga.

"Untuk lauknya beda-beda, kita ada donatur dari rumah makan. Kemarin dada sambal goreng, har ini terik tahu. Beras juga donatur," ujarnya.

Ahmad Ali merupakan pembuat bubur generasi keempat sejak bubur India ada di Masjid Jami Pekojan. Ia tidak sendiri, ada Ahmad Tohir dan Asrin yang ikut memasak. Ada juga relawan yang membantu saat penyajian bubur.

"Saya generasi keempat, saya mulai diajari dan membuat bubur sejak usia 45 tahun," ujar Ahmad Ali.

Menurut cerita warga, bubur India mulai dihidangkan sejak 1878 ketika pedagang dari Gujarat, India dan Pakistan datang dan menetap di Petolongan, Semarang. Masjid kemudian dibangun oleh para pedagang itu. Nama Pekojan sendiri konon diambil dari "Koja" yang merupakan sebutan untuk keturunan Pakistan.

Ketika Ramadan, warga India yang datang ke Masjid Jami Pekojan membawa bekal bubur untuk berbuka. Takmir masjid kala itu kemudian bekerjasama dengan pedagang India tersebut hingga akhirnya tercipta tradisi bubur India untuk menu berbuka.

"Dulu musafir buka di sini, waktu itu belum ada buka bersama. Orang-orang (keturunan) India shalat di sini buka di sini bawa bahan sendiri. Lama-lama digabungkan oleh takmir sini. Sampai sekarang pertahankan," terang Ahmad Ali.

Semula bubur India dibuat dalam kuali tembaga besar, namun kuali asli yang digunakan sejak 100 tahun lebih itu rusak dan diganti sejak beberapa tahun lalu. Meski demikian pihak takmir masjid masih menyimpannya dan berencana memajang bersama kitab-kitab yang dibawa para ulama dan pedagang zaman dulu.

"Kualinya ini pengganti, dipesan dari Ponorogo. Yang awal masih ada," tandasnya.

Penulis: Angling Adhitya Purbaya
Diberdayakan oleh Blogger.