Header Ads

Jagung Boseh, Ubi Kukus & Sambal Luat Merupakan Wisata Kuliner Paling Khas di Atambua

Jagung adalah makanan pokok di Atambua, NTT, kota perbatasan RI-Timor Leste. Kamu mesti coba aneka makanan khas Atambua di Pasar Senggol.

Wisata Kuliner di Atambua - Pasar Senggol sama sekali tidak mirip pasar, melainkan pusat jajanan kuliner. Letaknya di sisi utara Alun-alun Atambua. Tim Tapal Batas detik berkunjung ke Pasar Senggol di alun-alun Atambua pada Rabumalam.

Sebagai informasi, agak sulit mencari wisata kuliner khas Atambua. Rumah makan didominasi perantau Padang dan Jawa. Aneka bahan pangan khas Atambua, lebih banyak untuk dikonsumsi sendiri.

Pasar Senggol adalah tempat, mungkin satu-satunya, untuk menikmati kuliner khas Atambua. Kami berjumpa dengan pasangan suami istri paruh baya bernama Ahmad Abdi Setiawan dan Ona Martha Marsutiana.

Mereka punya lapak kuliner bernama Pojok Lokal Mak Ona. Selama dua tahun terakhir mereka berjualan aneka makanan khas Atambua. Mak Ona adalah pensiunan penggiat PKK Pemkab Belu selama 30 tahun, sedangkan suaminya pensiunan swasta.

"Kami jual Jagung Boseh dengan lauk ikan teri dan bunga pepaya, dimakan dengan Sambal Luat dan kami juga jual Ubi Kukus," kata Mak Ona.

Jagung Boseh adalah jagung yang ditumbuk menjadi gumpalan kecil, lalu direbus. Tampilannya basah seperti bubur, namun rasanya tawar. Ia dimakan dengan semacam teri balado dan sayur bunga pepaya.

Biar lebih sedap, Jagung Boseh diberi Sambal Luat yang isinya ulekan cabe rawit kecil -di Atambua dibilang lombok kecil- kemudian bawang merah, garam dan jeruk nipis. Sebagai peringatan, Sambal Luat pedas sekali lho.

Jagung yang tawar berjumpa dengan ikan teri yang gurih dan sayur bunga pepaya yang agak pahit dan segar. Sedap banget! Sambal Luat menyempurnakan rasanya menjadi menggelegar. Fiuh, pedasnya sampai ke kepala.

Habis seporsi Jagung Boseh, saya menyantap Ubi Kukus untuk menetralisir pedas dari Sambal Luat. Ubi Kukus ini adalah ubi yang diolah seperti kue putu, berisi gula merah dan dibakar di atas anglo dengan wadah anyam berbentuk kerucut.

Rasa manisnya menjadi pencuci mulut yang sempurna di Pojok Lokal. Seporsi Jagung Boseh, teri dan bunga pepaya harganya Rp 10.000. Seporsi Ubi Kukus gula merah harganya Rp 6.000.

"Pejabat yang ada di Pemkab Belu, makan di sini. Pernah juga ada turis Jerman datang, malah minta belajar masak," kata Ahmad.

Mak Ona juga sempat curhat, betapa warga Atambua kurang percaya diri dengan makanan tradisional mereka. Mak Ona dan suaminya berjuang supaya Jagung Boseh tetap lestari dan bisa dinikmati para wisatawan.

Nah, Sambal Luat Mak Ona rupanya menjadi favorit pengunjung. Oleh karena itu Mak Ona mengemasnya dalam wadah selai dari beling yang cantik ukuran sekitar 200 ml dan bisa dibawa sebagai oleh-oleh.

"Kalau dikemas pakai wadah begini kan jadi lebih cantik dan pantas buat oleh-oleh. Satu kemasan harganya Rp 30.000," kata Mak Ona.

Sambal Luat Mak Ona sudah dibawa wisatawan yang membelinya sampai ke Jakarta dan Papua. Jagung Boseh Mak Ona juga pernah diborong Pemkab saat Jokowi kunjungan kerja ke Atambua sebagai camilan di rumah dinas bupati.

"Sambal Luat itu bisa langsung dimakan atau dipakai untuk memasak. Kalau Ubi Kukus itu makanan tradisional yang dulunya jadi bekal untuk pergi berladang berhari-hari. Nah kalau Jagung Boseh ini bisa tahan sampai 3 hari asal dipanaskan," kata Ahmad.

Murah, enak dan khas Atambua. Tiga alasan ini sudah cukup untuk para traveler memburu Pojok Lokal Mak Ona kalau wisata perbatasan ke Atambua.

Penulis: Fitraya Ramadhanny
Diberdayakan oleh Blogger.