Header Ads

Terasi Khas Langsa Mendunia Hingga Ke Pasar Eropa

Seperti diketahui, udang sabu yang bentuknya kecil-kecil ini dalam bahasa Acehnya disebut dengan 'udeung sabee'. Makanya, tidak heran kalau bau terasi agak menyengat tapi rasanya gurih dan nikmat.

Wisata Kuliner - Seperti yang diproduksi oleh masyarakat di kawasan pesisir Kota Langsa yakni Gampong Simpang Lhe, Kecamatan Langsa Barat. Terasi ini juga menjadi salah satu oleh-oleh atau buah tangan khas Kota Langsa.

Bahkan, setiap ada even seperti Peukan Kebudayaan Aceh (PKA) yang diikuti setiap kabupaten/kota se-Aceh di Banda Aceh, stan yang banyak dikunjungi salah satunya dari Kota Langsa karena menjual terasi tersebut.

Salah seorang pembuat Terasi, Linda (28) kepada Pewarta langsa menuturkan, setiap harinya, Ia mampu memproduksi terasi hingga 25-30 kilogram.

Namun, jumlah produksi ini akan bisa bertambah hingga sampai 2 ton jika ada pesanan khusus, dengan harga jual sebesar Rp15.000 hingga Rp40.000 per kilogramnya.

"Harga bisa berubah jika harga beli udang sabu dari nelayan juga berubah. Ketika musim udang sabu pada Februari dan Mei harga jualnya mencapai Rp4.000 ribu per kilogram, karena dalam setahun hanya dua kali musim udang sabu," tuturnya.

Jumlah produksi ini bisa berkurang, apabila pasokan bahan udang sabu sulit didapat dari nelayan di gampong setempat.

Selain dirinya, ada beberapa pengrajin usaha terasi yang ada di gampong ini. Tapi yang aktif hingga sekarang, hanya beberapa tempat, bahkan lainnya membuka usaha secara temporer.

Untuk pemasaran, Ia hanya menjual di tempat usahanya saja, karena banyak pembeli yang langsung datang ke tempatnya.

Meskipun hanya berjualan di rumahnya, banyak masyarakat yang membeli terasi hasil olahannya untuk dikirim ke luar Aceh, bahkan ke luar negeri sebagai buah tangan atau oleh-oleh khas Kota Langsa.

"Setiap ada pembeli datang kemari, selalu saya tanyakan buat apa dan mereka mengatakan untuk oleh-oleh mau dikirim kepada teman atau saudaranya di Jawa dan juga luar negeri seperti Swedia, Australia dan Inggris," ungkapnya.

Lebih lanjut Linda menjelaskan, produksi terasi miliknya juga sering dijadikan sebagai praktik pelajar dari sejumlah sekolah di Aceh.

"Alhamdulillah usaha terasi yang telah digelutinya selama lebih kurang 20 tahun bisa membawa berkah bagi keluarga," terangnya.

Ia berharap kepada Pemerintah Kota Langsa, untuk memperhatikan usaha kecil menengah, sehingga bisa semakin berkembang dan terus digemari oleh masyarakat luas.

Penulis: Dedek
Diberdayakan oleh Blogger.