Header Ads

Menikmati Wisata Laboratorium Alam di Kabupaten Sinjai, Hutan Mangrove Tongke - Tongke

Alam memang jadi tempat pertama manusia untuk belajar. Di Tongke-tongke Sulteng ada hutan mangrove yang disebut-sebut sebagai laboratorium alam lho!

Wisata Edukasi - Kawasan ini cukup rindang. Pepohonan menjulang tinggi. Aroma laut begitu terasa disini. Dari kejauhan, pemandangan laut yang nampak diantara pepohanan begitu mencolok. Bak lampu sorot, dari ujung sanalah cahaya muncul. Tempat ini minim penerangan, cahaya matahari hampir tak bisa menempus rimbunan pohon mangrove.

Cahaya yang menjadi sumber penerang justru datang dari tempat saya berdiri. Disinilah gerbang pertama untuk mengakses tempat ini. Sumber cahaya lainnya justru datang dari ujung jembatan tempat saya berdiri. Jembatan yang cukup panjang dan mengarah langsung ke laut. Di tengah jembatan terdapat sebuah gazebo. Banyak yang duduk menikmati sejuknya suasana alam nan elok.

Disini, semuanya begitu berbeda. Suasana menyatu dengan alam begitu terasa. Suasana hutan mangrove dapat mengobati rasa rindu akan alam. Alam yang menjadi tumpuan hidup dari berbagai makhluk. Manusia, hewan dan tumbuhan menjadi sederet nama itu. Suasana hening dan damai menghadirkan ketenangan. Ini lah salah satu satu destinasi wisata mangrove yang ada di Sinjai. Selain dikenal sebagai destinasi wisata, hutan mangrove dengan luas area 786 Ha ini juga dikenal sebagai laboratorium bakau Sulawesi Selatan.

Kawasan wisata hutan mangrove ini berada di desa Tongke-Tongke Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Untuk menuju kawasan wisata, para pengunjung bisa menggunakan transportasi darat dari pusat kota Sinjai. Jaraknya hanya sekitar 7 km dari pusat kota Sinjai. Kawasan wisata ini menghadirkan nuansa alam dengan panorama yang indah. Siapa yang tidak terpikat dengan keindahan alam yang dihadirkan destinasi hutan mangrove ini. Siapa pun pasti akan betah berlama-lama di tempat seperti ini.

Saya juga cukup beruntung saat berkunjung ke tempat ini. Tak begitu ramai. Hanya ada beberapa orang pengunjung lokal hari itu. Kawasan wisata ini memang ramai hanya pada saat hari libur saja. Sementara di saat seperti ini sepi karena bertepatan dengan hari Senin, hari dimana orang-orang disibukan dengan aktivitas pekerjaan atau pun sekolah.

Hari itu, saya tiba tepat pukul 15.00 WITA. Hujan sempat menguyur kota Sinjai saat perjalanan menuju ke destinasi wisata hutan mangrove ini. Kondisi alam memang sulit di prediksi. Panas dan hujan silih berganti menemani perjalanan. Saya cukup beruntung, memasuki kawasan wisata, nuansa berganti. Hujan tak lagi membasahi kota dengan julukan bumi panrita kita ini.

Seketika itu pula, nuansa alam dan sejuknya udara sehabis hujan membawa nuansa berbeda. Tempat ini tutup pukul 18.00 WITA.

"Sekarang baru pukul jam tiga, jadi anda masih punya waktu sampai sampai jam enam nanti,"ujar salah satu bapak saat kami memarkir kendaraan ketika memasuki kawasan wisata hutan mangrove.

Usai memarkir kendaraan, saya dan beberapa teman pun mulai menyusuri kawasan hutan mangrove. Mengabadikan momen adalah hal mutlak. Sebuah jembatan kayu menjadi tumpuan kaki. Jembatan ini sengaja dibangun untuk memudahkan para pengunjung menelusuri keindahan yang dihadirkan hutan mangrove.

Sementara itu, diujung jembatan nuansa yang dihadirkan tempat ini begitu berbeda. Pemandangan laut dan gunung langsung tersaji. Di ujung jembatan ini juga terdapat sebuah kapal dan warung terapung. Nah, jika ada yang mau berkeliling bisa menyewa kapal tersebut. Sebenarnya saya belum terlalu puas menikmati keindahan tempat ini.

Namun karena waktu tidak memungkinkan sementara kami harus mencari minuman khas daerah ini dan kembali ke Makassar. Ya, saya berharap ini bukan yang terakhir mengijakkan kaki di Sinjai. Mungkin saya akan kembali lagi kesini di lain waktu.

Kami memutuskan untuk kembali sore itu meninggalkan keindahan hutan mangrove. Mobil melaju dengan lambat. Jalanan tak begitu mulus untuk mengakses tempat ini. Masih terdapat lubang dibeberapa bagian jalan. Lagian akses jalan menuju ke sini tak begitu luas.

Dulu, para pengujung harus membayar untuk memasuki kawasan wisata hutan mangrove ini. Namun, sekarang tidak lagi. Para wisatawan yang berkunjung hanya dikanakan biaya parkir kendaraan saja.

"Dulu kalau mau masuk ke kawasan wisata ini harus bayar Rp 5.000 per orang. Setelah pengelolaanya diambil alih oleh pemerintah para pengunjung tidak lagi dikenakan biaya masuk," kata Fajar yang menemani perjalanan menuju kawasan wisata ini saat perjalanan pulang.

Penulis: Sahrul Rusli
Diberdayakan oleh Blogger.